Berhubung 14 Februari kemarin adalah hari kasih sayang, pembahasan saat ini lebih asik tentunya pembahasan jatuh cinta. Tapi jatuh cinta tidak semua merasakan. Karena kalau berani jatuh cinta, resikonya harus berani patah hati. Dua hal yang tidak bisa dilepaskan dari kisah yang sudah ada sejak zaman adam dan hawa. Dan para jomlo man/girl malah menganggap hari ini adalah hari FUCKLENTINE...

Kita baru melewati tanggal 14 Februari, dimana hari itu terkenal dengan hari kasih sayang. Hari dimana banyak kaula muda yang merayakannya. Tidak terlepas buat negara kita yang dikenal dengan negara demokrasi.

Banyak kaula muda kemarin menghabiskan hari itu dengan merayakannya bersama pasangan yang disayangi dan dicintai. Berhubung karna tanggal 15 Februari ini adalah  Maulid Nabi Muhammad SAW yang pastinya tanggal merah, barang tentu secara sadar para muda- mudi yang dimabuk kasmaran tidak akan melewatkan malam hari valentine untuk merayakan bersama pacar.

Walau suka cita tampak dihari valentine ini, pasti ada diantara kita yang melewatkan malam valentine dengan wajah menghadap televisi sambil memakan popcorn. Dan mereka yang sendiri itu, mereka adalah orang yang melewatkan hari valentine tanpa pasangan dan menganggap hari ini adalah hari Fucklentine.

Melamun, meratapi nasib yang bisa dikatakan berbeda dengan orang yang merayakan valentine. PATAH HATI! adalah kata yang tepat untuk 90% muda mudi yang merayakan valentine sendiri, dan 10%  adalah muda mudi yang secara klasik lebih mengutamakan pendidikan atau karir.

Banyak faktor yang membuat pasangan putus, seperti ketidakcocokan SIFAT antar pasangan, MATERI yang akan selalu ada didunia ini, PRINSIP didalam sebuah hubungan, PIHAK KETIGA yang sudah ada sejak jaman purba kala. 4 kriteria diatas sudah terangkum dalam kandasnya cerita cinta.

Nah, ini ada cerita untuk dibahas, pembahasan yang ingin dikupas sekarang ini adalah "cerita tentang sebuah pasangan yang tiba-tiba menghindar dan tidak mau memberi tahu, apa alasan kenapa dia meninggalkan pasangannya".

Cerita berawal dari dua muda mudi yang sedang dimabuk asmara, kisah cinta mereka bisa dibilang sedang berseminya. Tapi saat mereka sedang membangun komitmen, entah kenapa satu pasangan ini (dalam kasus ini panggil saja si A) tampak menghindar pasangannya (sebut si B). Awalnya mereka tidak ada problem, saat itu hari pun bintang bersinar dengan terangnya.

Tak ada yang tau, tiba tiba saja si A seperti tidak ada kabar. Tentu dong, si B bingung? "kenapa dengan dia" pikir si B, tapi tidak ada prasangka buruk  saat itu. Malamnya si B menghubungi si A, tapi saat baru berkata "hallo", si A langsung berkata "aku lagi sibuk, nanti aku hubungi ya", tut tut tut tut bunyi telefon terputus. B terpelongo, handphone masih berada di kuping dengan tangan masih menyanggah telefon. Lama terdiam B garuk-garuk kepala, dan heran dengan tingkah aneh A.

Karena si A berkata akan menghubungi balik, B rela menunggu hingga larut malam saat itu. Tapi apa mau dikata, hingga suara adzan subuh berkumandang, jangankan telephone, bunyi sms saja tidak terdengar di malam yang dingin itu. Mulailah rasa curiga muncul. "Kenapa dengannya? apa aku berbuat salah? ah, sepertinya engga kok, soalnya aku ga ada masalah sama dia, semalam aja masih canda candaan." lamunnya.

Tapi B berusaha dewasa, dia menunggu, kalau kalau si wanita akan menghubunginya, karena si B merasa, mungkin A sedang ada problem dalam keluarganya yang tidak mungkin dicampuri. Tapi ternyata salah, pemikiran si B 100% benar-benar salah! ternyata bukan memecahkan masalah, malah membuat B semakin saja jauh dari A. Seperti benang yang telah putus! itu mungkin gambaran yang tepat.

tanpa pikir panjang, B menghubungi A, tapi handphone nya tidak aktif. Dongkol, B memberi pesan singkat "hapenya ko tidak aktif? hubungi kalau sudah aktif ya" isi pesan singkat tersebut. Tidak berapa lama, tanda pesan terkirim masuk ke hape B, rupanya hape A sudah aktif kembali.

Gak mau menunggu, B langsung menghubungi A dan terdengar lah suara A yang sudah ditunggu-tunggu B.
"kenapa sih A, ko ingin menghindar dari aku? tanya B
"Tidak ah, bukan menghindar, tapi aku lagi ada masalah. Nanti kalo masalahku sudah selesai, aku hubungi kamu balik ya?" A meyakinkan.

Walau sudah tahu maksud dari perkataan dan tau jawabannya, B tidak mau langsung memvonis. Dia berusaha dewasa, berusaha untuk memahami maksud perkataannya dengan cara halus, dalam arti 'menunggu, bukan mengakhiri'.

Hari hari B dilewati dengan hati teriris, penyesalan dan rasa marah sampai keubun-ubun. Aku sudah dewasa, dan aku sudah terlalu lelah melewati ini semua. Kalau ingin mengakhiri, lebih baik dengan cara yang sedikit perpendidikan. Bukan dengan cara seperti orang tolol!! Siapapun pasti marah, kalau ceritanya seperti ini.

Nah, dari cerita diatas kesimpulan apa yang tepat. Apakah SIFAT, MATERI, PRINSIP, PIHAK KETIGA..?
karna menurut saya sendiri, kasus itu sudah masuk dalam 4 kriteria tersebut. (dudek)

Categories:

Leave a Reply